Tentang Penguatan ISPO

Image

Penguatan ISPO

Berdasarkan Data Statistik Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, total luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2015 mencapai 11,3 juta hektar, dengan hasil produksi mencapai 37 juta ton yang terdiri dari 33,4 juta ton CPO dan 3,6 juta ton PKO. Total hasil produksi tersebut menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 53 persen dari total produksi CPO dan PKO dunia.  Sebagai komoditas ekspor terbesar Indonesia setelah minyak dan gas, sawit menjadi kunci pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional yang harus dilindungi pemerintah.

Namun, pengembangan kelapa sawit harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip berlanjutan. Salah satunya yaitu melalui sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan/Indonesian Sustainablle Palm Oil (ISPO) yang didasarkan pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 19/2011, yang kemudian diperbarui dengan Permentan No. 11/2015 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainablle Palm Oil - ISPO).

Kedepannya, diperlukan penguatan ISPO dalam bentuk Presiden (Perpres) yang penyusunannya melibatkan pemerintah pusat (antar Kementerian/Lembaga), pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan masyarakat lokal. 

Tujuan dari Perpres ini yaitu:

  1. Perbaikan tata kelola pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan Indonesia.
  2. Meningkatkan keberterimaan produk perkebunan kelapa sawit Indonesia di pasar luar negeri;
  3. Memberikan kontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca (high carbon stock) dan   kelestarian keanekaragaman hayati (high conservation value), khususnya melalui pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan